Hati-Hati dengan Dengki
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
Kenapa iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as? Sebab, iblis sangat
dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat
dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis.
Rasulullah
SAW bersabda, "Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak
lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang muslim yang rakus
terhadap harta dan dengki terhadap agama. Sesungguhnya dengki itu memakan
habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu". (HR. At-Tirmidzi)
Seorang pendengki hidupnya tidak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan
muak
kepadanya. Jika kelak mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat
hina
di hadapan Allah. Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan
terbalik,
sehingga neraka Jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang
akan
Allah timpakan kepada seorang pendengki.
Apakah dengki itu? Secara garis besar sifat ini terbagi ke dalam dua
bagian.
Pertama, dengki yang diharamkan. Seseorang merasa tidak senang atas
kenikmatan yang diperoleh orang lain dan merasa bahagia kalau orang lain
mendapat musibah. Atau setidaknya, ia menginginkan nikmat yang ada pada
orang lain tersebut hilang. Ini dengki yang diharamkan, karena sifat
seperti
ini termasuk ke dalam tingkatan ketiga dari penyakit hati.
Kedua, dengki yang diperbolehkan berupa rasa iri kepada kenikmatan orang
lain, tapi tidak ingin menghilangkan kenikmatan tersebut darinya. Melihat
orang lain memiliki rumah bagus, kita merasa iri ingin pula memiliki hal
yang sama dan tidak dengan cara menjadikan orang tersebut jatuh miskin.
Keinginan seperti ini wajar-wajar saja selama tidak bergeser menjadi
perasaan tidak e****, yang berlanjut pada hasrat ingin melenyapkan
kenikmatan
orang tersebut.
Bahkan, "kebolehan" merasa dengki seperti ini insya Allah akan berpahala
bila kita berbuat. Pertama, ketika melihat orang berilmu dan gemar
mengamalkan ilmunya, giat berdakwah dengan penuh keikhlasan, dan kita pun
menginginkan untuk berbuat seperti itu. Kedua, ketika melihat orang kaya
yang gemar membelanjakan hartanya di jalan Allah, lantas kita menginginkan
berbuat hal serupa.
Dengki biasanya akan berpasangan dengan keadaan yang dihadapi pemiliknya.
Mahasiswa akan dengki kepada sesama mahasiswa. Orang pintar akan dengki
kepada orang yang pintar lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, akan
sulit
terjadi seseorang merasa dengki terhadap orang lain yang memiliki
kapasitas
berbeda.
Secara umum ada empat hal yang bisa menyebabkan munculnya sifat dengki,
yaitu: pertama, kebencian dan permusuhan. Sifat ini bisa muncul karena
pernah disakiti, difitnah, salah satu haknya dilanggar, atau sebab-sebab
lain yang merugikan diri sendiri. Kedua, hadirnya naluri untuk selalu
lebih
dari orang lain. Naluri ini merupakan jalan tol menuju penyakit dengki.
Seseorang yang merasa pakaiannya paling bagus misalnya, akan mudah
dihinggapi rasa dengki ketika melihat ada orang yang pakaiannya lebih
bagus
dan lebih mahal daripada yang dipakai dirinya.
Kita hidup seharusnya seperti orang memandikan mayat. Ia akan senang bila
ada yang membantu. Ketika berkiprah dalam dakwah, hendaknya kita bersyukur
tatkala ada saudara seiman yang memiliki misi yang sama, dan ditakdirkan
ilmu dan jamaahnya lebih banyak dari kita. Allah SWT berfirman dalam QS
An-Nisaa: 32, ''Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan
Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian lain. (Karena)
bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita
pun
ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah
sebagian
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Penyebab dengki yang ketiga adalah ambisi kepemimpinan. Obsesi ingin
selalu
memimpin yang disertai ambisi untuk merebut pucuk pimpinan adalah sarana
yang paling rawan munculnya kedengkian. Bahkan bisa menjadi awal hancurnya
sebuah negara dan umat. Karena itu, dalam konteks kepemimpinan umat, orang
yang pertama kali terbenam ke dalam neraka adalah ulama-ulama pendengki
yang
selalu berambisi menjadi pemimpin dan mengejar popularitas. Munculnya
kedengkian dalam hati para ulama dan pemimpin umat sedikit demi sedikit
akan
menghapuskan cita-cita luhur untuk mewujudkan ittihadul ummah; persatuan
umat dalam cahaya Islam.
Dalam QS Al-Hujurat ayat 12 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan dari prasangka karena sesungguhnya sebagian dari
prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang
lain dan janganlah pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Penyebab keempat adalah akhlak yang buruk. Orang yang buruk akhlaknya akan
kikir berbuat kebaikan dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan
kebaikan. Jika melihat sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan
menggerutu dan sibuk menyalahkan. Orang seperti ini hidupnya akan selalu
sengsara, dan di akhirat nanti akan mendapatkan transfer pahala yang ia
miliki kepada orang yang didengkinya. Rasulullah menyebutnya sebagai orang
bangkrut, mufhlis. Ia membawa pahala kebaikan, tapi pahala itu habis untuk
menggantikan dosa yang diperbuatnya pada orang lain.
Oleh karena itu, Ibnu Sirrin pernah berucap, "Saya tidak sempat dengki di
dunia ini. Kengapa saya harus dengki, apalagi perkara di dunia dan
terlebih
lagi dengki kepada orang saleh? Bukankah dunia ini tidak ada apa-apanya
dibandingkan dengan akhirat nanti. Apa perlu kita dengki? Wallahu a'lam
bish-shawab.
--
- website address : http://www.adriandw.com
(about christian, jew and
islam; history, knowledge, teaching and practice on life)
- e - mail address : adriandw@[EMAIL PROTECTED]
Cellphone/Mobile/Hand Phone : +62 816 705 818 (video call acceptable/3G
acceptable)
- World Church baptized me Saint John in 1985
- World Church and World Synagogue acknowledged me as Messiah


|